Selasa , 26 September 2017, 15:27 WIB

Setiap Tiga Detik, Satu Orang di Dunia Mengalami Demensia

Rep: Binti Sholikah/ Red: Gita Amanda
Guardian
Pasien dimensia
Pasien dimensia

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Data terbaru Alzheimers Disease International (ADI) mengungkapan saat ini sekitar 50 juta orang hidup mengidap demensia di seluruh dunia. Angka ini diperkirakan mencapai 132 juta orang pada 2050 jika tidak ada penerapan strategi penanggulangan risiko yang efektif.

Demensia merupakan gangguan pada otak yang menyebabkan penurunan daya ingat hingga kemampuan mental. Penyakit ini menjadi salah satu krisis global kesehatan dan sosial yang signifikan di abad ke21.

Chief Executive Officer ADI, Paola Barbarino, menjelaskan, diagnosis demensia sering kali terlambat dilakukan. Penelitian ADI mengungkapkan saat ini tanpa disadari setiap tiga detik terdapat satu orang terkena Alzheimer karena rendahnya pemahaman orang tentang penyakit demensia. Untuk itu, saat ini dibutuhkan kesadaran global yang situasinya mendesak.

Ia menjelaskan, World Health Organization (WHO) telah mengadopsi Global Plan of Action on The Public Health Response to Dementia 2017-2025 yakni sebuah rencana global yang mendorong pemerintah untuk meningkatkan kesadaran, deteksi dini, dan diagnosis demensia.

Namun, baru sekitar 30 dari 194 negara anggota WHO yang telah mengembangkan rencana penanggulangan risiko demensia. "Pemerintah setiap negara harus bertindak sekarang juga untuk menerapkan rencana dan kebijakan untuk mengurangi epidemi global secara serius," katanya melalui siaran pers, Selasa (26/9).

Eksekutif Direktur Alzheimers Indonesia, Sakurayuki, mengapresiasi pemerintah Indonesia yang telah meluncurkan Rencana Aksi Nasional (RAN) Demensia pada Maret 2016. Langkah pemerintah Indonesia tersebut telah diapresiasi oleh ADI sebagai salah satu negara yang aktif dalam meningkatkan kesadaran penyakit demensia.

"Indonesia telah menjadi role model untuk kampanye peningkatan kesadaran demensia di Asia Pasifik, berkat kolaborasi dengan semua pihak, baik itu pemerintah pusat dan daerah, perusahaan swasta maupun publik, yang bersama-sama untuk tidak maklum dengan pikun," kata Sakurayuki.

Paola menambahkan, masih banyak stigma dan kesalahan informasi seputar penyakit demensia. Untuk itu, sangat penting bagi masyarakat untuk sadar dan mengenali gejala demensia. Sehingga memahami dampaknya dan mengetahui langkah yang harus dilakukan saat menghadapi orang dengan penyakit tersebut.

Di sisi lain, potensi kerugian ekonomi dari penyakit demensia diprediksi mencapai Rp 30 triliun pada 2050 mendatang. Hal ini timbul akibat hilangnya penghasilan bagi pasien demensia dan biaya yang dikeluarkan untuk merawat serta membeli obat-obatan.

Penelitian mengenai penyakit demensia juga membutuhkan investasi yang besar namun harus menjadi prioritas untuk memberikan dukungan bagi mereka yang hidup dengan demensia, dan mereka yang akan terpapar penyakit ini dalam beberapa dekade ke depan, terang Paola.

Untuk mengetahui tanda-tanda seseorang mengidap demensia, masyarakat diharapkan memperhatikan gejalanya dan mengecek ke dokter ahli. Sedikitnya terdapat 10 tanda-tanda demensia, antara lain, gangguan daya ingat, sulit melakukan kegiatan yang bersifat familiar, gangguan komunikasi, disorientasi waktu dan tempat, kesulitan dalam membuat keputusan, sulit fokus, menaruh barang tidak pada tempatnya, perubahan perilaku dan kepribadian, kesulitan memahami hubungan antara visual dan spasial, serta menarik diri dari pergaulan.




Berita Terkait