Kamis , 14 September 2017, 17:22 WIB

Gejala Serangan Jantung Pria dan Perempuan Berbeda

Red: Yudha Manggala P Putra
pexels
Serangan jantung kerap dikira angin duduk, karena diawali dengan nyeri dada.
Serangan jantung kerap dikira angin duduk, karena diawali dengan nyeri dada.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Dokter Spesialis Kardiovaskular Jetty RH Sedyawan mengatakan gejala serangan jantung yang dirasakan perempuan dan laki-laki berbeda. Gejala yang dirasakan perempuan menurutnya lebih ringan dibandingkan dengan pria.

"Gejala serangan jantung berbeda-beda, perempuan biasanya merasa kelelahan apalagi kalau sudah menderita diabetes, saraf-sarafnya sudah rusak maka dia tidak terlalu dapat merasakan sakit," kata Jetty di Jakarta, Kamis (14/9).

Sementara itu serangan jantung yang dirasakan oleh pria lebih spesifik seperti nyeri di dada yang menjalar ke leher dan ke tangan kiri, dan keringat dingin.

Pertolongan pertama yang diberikan pada serangan jantung adalah memeriksa nadi. Jika nadi melambat maka kita dapat menyuruh penderita untuk batuk agar denyut nadinya meningkat. Jika denyut nadinya cepat maka penderita harus tenang kemudian memberinya obat jika penderita memilikinya. Jika tidak memiliki obat maka segera dibawa ke rumah sakit.

"Enam jam pertama adalah waktu emas untuk menolong penderita serangan jantung, mereka harus segera dibawa ke rumah sakit untuk dilakukan penanganan," kata dia.

Sementara itu jika penderita mengalami henti jantung mendadak, maka perlu memeriksa apakah penderita masih bernapas dan memiliki denyut jantung. Jika tidak ada maka lakukan kompresi dada dengan kecepatan 100 kompresi dada per menit sebanyak 30 kali.

Saat melakukan kompresi dada, korban harus berada di permukaan yang datar dan keras, tidak boleh dilakukan di atas tempat tidur.

Menurut data Kementerian Kesehatan pada 2014 ada 10 ribu orang per tahun yang mengalami henti jantung mendadak, data yang sama menunjukkan bahwa frekuensi henti jantung mendadak meningkat seiring dengan peningkatan jantung koroner dan stroke.

Sementara itu data PERKI pada 2016 menemukan angka kejadian henti jantung mendadak bekisar antara 300 ribu hingga 350 ribu insiden setiap tahunnya.

Sumber : Antara