Rabu , 13 September 2017, 05:02 WIB

Tato Picu Risiko Gangguan Kelenjar Getah Bening

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Hazliansyah
EPA
Seniman tato sedang membuat tato.
Seniman tato sedang membuat tato.

REPUBLIKA.CO.ID, GRENOBLE -- Merajah kulit atau yang lebih dikenal dengan istilah tato diprediksi dapat memicu risiko gangguan kelenjar getah bening. Dampak kesehatan itu terungkap dalam penelitian yang dilakukan tim dari Fasilitas Radiasi Sinkrotron Eropa (ESRF) di Grenoble, Prancis.

Para ilmuwan menggunakan sinar-X intens hasil fasilitas sinkrotron untuk melacak nanopartikel titanium dioksida yang dilepaskan ke tubuh seseorang selama proses membuat tato. Tim mencermati bahwa proses itu merilis partikel pigmen mikroskopis yang terakumulasi di kelenjar getah bening, organ yang sangat penting bagi sistem kekebalan tubuh.

Titanium dioksida, bahan yang paling umum digunakan dalam tinta tato selain karbon hitam, adalah pigmen putih yang digunakan pada bahan tambahan makanan, tabir surya, dan cat. Studi yang diterbitkan dalam jurnal Scientific Reports menjelaskan, bahan ini sering dicampur dengan pigmen lain untuk menciptakan nuansa warna tato berbeda.

"Ketika seseorang ingin mendapatkan tato, mereka cenderung berhati-hati untuk menggunakan jarum steril, tetapi tidak banyak yang memeriksa komposisi kimiawi bahan pewarnanya," ungkap salah satu penulis studi, dr Hiram Castillo.

Efek buruk yang timbul dari menumpuknya bahan pewarna tersebut pada kulit dikaitkan dengan penyembuhan yang tertunda, permukaan kulit yang terangkat, dan rasa gatal. Castillo mengatakan, para calon pengguna tato sebaiknya lebih mewaspadai unsur tersebut.
 
Dr Bernhard Hesse, anggota lain dalam tim ESRF mengatakan, riset memang belum mendapati bukti bahaya kesehatan serius terkait bahan titanium dioksida dalam tato. Akan tetapi, ia dan para rekan ilmuwannya menjumpai bahwa partikel nano yang dilepaskan memiliki sifat tidak dapat diprediksi.

"Mereka mungkin tidak memiliki perilaku yang sama seperti partikel pada tingkat mikro. Dan itulah masalahnya, kita tidak tahu bagaimana reaksi nanopartikel," ujar Hesse yang berencana melanjutkan studi dengan melihat sampel jaringan para penderita efek buruk dari tato, dikutip dari laman Express.