Selasa , 12 September 2017, 14:50 WIB

Ini Keunggulan dan Efek Samping KB Suntik

Rep: Rr Laeny Sulistyawati/ Red: Indira Rezkisari
Republika/Musiron
Pemilihan alat kontrasepsi harus sesuai dengan kebutuhan. Setiap perempuan wajib mengetahui mengapa ia mengambil salah satu metode atau alat kontrasepsi tertentu.
Pemilihan alat kontrasepsi harus sesuai dengan kebutuhan. Setiap perempuan wajib mengetahui mengapa ia mengambil salah satu metode atau alat kontrasepsi tertentu.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mengklarifikasi cerita keluarga berencana (KB) hormonal yang beredar ramai di media sosial Facebook yang diunggah oleh Mey Erlyn pada 1 September 2017.

Unggahan Mey Erlyn ini menceritakan soal pengalamannya menggunakan kontrasepsi suntik. Cerita tersebut saat ini sudah dibagikan oleh lebih dari 20 ribu netizen dan menjadi viral bahkan telah diberitakan oleh beberapa media daring nasional. Terkait dengan hal tersebut, Guru Besar dari Departemen Obstetri-Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Biran Affandi, memberikan penjelasan.

Saat penggunaan KB suntik atau hormonal ada dua macam yaitu yang hanya mengandung progestin saja dan yang mengandung progestin dan estrogen (kombinasi). Yang mengandung hormon progestin saja yaitu susuk KB, suntik tiga bulanan, minipil atau POP9 progestin only pill, dan IUD yang mengandung hormon.

Sedangkan yang hormon kombinasi terkandung di suntik satu bulanan dan pil KB.  Progestin akan menekan ovulasi, membuat getah serviks menjadi kental dan membuat selaput lendir rahim menjadi tipis atau tidak tumbuh. Dengan ketiga kerja tersebut, progestin mencegah kehamilan.

“Selaput lendir menipis atau tidak tumbuh membuat keluhan pendarahan berkurang atau bahkan pada beberapa kasus tertentu terkadang selaput lendir tidak terbentuk sehingga tidak terjadi pendarahan,” katanya seperti dalam keterangan tertulis yang diterima Republika.co.id, Selasa (12/9).

Ia menambahkan, gangguan haid pasca KB suntik bisa berbeda-beda. Ada wanita yang setelah tiga sampai enam bulan kerja hormonnya kembali normal. Lantas, ovulasi dan menstruasi datang lagi dengan teratur.

Tapi ada juga yang perlu waktu sampai satu tahun, terhitung dari KB suntik dihentikan. Kembalinya kesuburan pasca berhenti menggunakan kontrasepsi memang  lebih lama dibanding dengan penggunaan pil KB, karena obat yang diberikan tidak mengandung hormon kombinasi dan digunakan dalam jangka waktu yang lama, sehingga sistem kerja hormon tidak berjalan sebagaimana mestinya. Bahkan efek samping KB suntik juga masih mungkin terjadi setelah pemberian KB suntik dihentikan.

Prof Biran mengingatkan, untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan, calon pengguna kontrasepsi perlu dilakukan konseling atau komunikasi, edukasi dan informasi (KIE). Konseling sebaiknya dilakukan dari sebelum penggunaan kontrasepsi, agar dapat diberikan KIE mengenai keuntungan dan efek samping penggunaan kontrasepsi, karena setiap individu berbeda hormonnya dan pengguna kontrasepsi juga harus selalu memeriksakan dirinya berkala ke dokter atau bidan yang kompeten.

“KIE itu diperlukan baik untuk masyarakat ataupun untuk tenaga medis yang melakukan pelayanan, tugas dokter itu adalah untuk mensejahterakan masyarakat, salah satunya adalah dengan memberikan informasi yang jelas dan tidak membuat ketakutan kepada pasien," katanya.

Apabila kita mengalami hal seperti ini, ia menyebut hal yang dilakukan adalah konsultasikan ke dokter atau tenaga medis. Nantinya mereka akan menyampaikan konseling KIE yakni komunikasi apa yang terjadi sehingga tidak kunjung haid, ini terjadi karena selaput lendirnya tipis sekali atau tidak terbentuk sama sekali akibatnya tidak ada darah haid yang keluar.

Informasi bahwa hal ini terjadi pada mereka yang menggunakan kontrasepsi susuk (implant), suntik dan pil tapi yang paling banyak pada yang menggunakan susuk dan suntik. Kemudian perlu diberikan edukasi bahwa menurut penelitian sebenarnya tidak ada masalah terhadap kesehatan terkait penggunaan kontrasepsi.
Terkait ada pernyataan dari dokter yang mengatakan bahwa adanya infeksi setelah menggunakan alat kontrasepsi dalam hal ini menggunakan KB hormonal jenis suntik tiga bulanan, ia meminta perlu diperiksa kembali kebenarannya.

"Penggunaan kontrasepsi hormonal pun jangan melupakan keuntungan lain (non contraceptive benefits), seperti ovulasi yang tertekan menyebabkan risiko kanker ovarium (indung telur) sangat berkurang, getah serviks kental bukan hanya mencegah sperma masuk ke rahim untuk mencegah kehamilan tetapi juga mencegah kuman penyakit masuk dan membuat kemungkinan infeksi panggul sangat menurun, juga dengan menipisnya selaput lendir akan terhindar dari terjangkitnya kanker endometrium," ujarnya.