Sabtu , 12 Agustus 2017, 18:08 WIB

Aritmia Bisa Sebabkan Kematian Mendadak

Rep: Desy Susilawati/ Red: Esthi Maharani
Boldsky
Nyeri di dada, bisa jadi pertanda sakit jantung
Nyeri di dada, bisa jadi pertanda sakit jantung

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Masih ingat kasus seorang dokter anestesi yang meninggal saat tidur baru-baru ini? Kasus ini menjadi berita heboh nasional karena dokter tersebut meninggal saat sedang berada di ICU. Hal itu pun dikaitkan dengan beban kerja dokter yang berlebihan. 

Namun, belakangan dikatakan bahwa yang bersangkutan menderita Sindrom Brugada. “Jika benar demikian maka kematian itu adalah kematian yang wajar,” ungkap Prof Dr dr Yoga Yuniadi, SpJP (K) yang baru saja dilantik sebagai Guru Besar Jantung dan Pembuluh Darah FKUI, Sabtu (12/8) di Jakarta.

Sindrom Brugada dikenal dengan sleep death syndrome atau di Filipina disebut Bangungut (arise and moan), sedangkan di Thailand disebut Lai-Tai (died during sleep). Sindrom ini merupakan penyakit herediter yang disebabkan oleh mutasi gen SCN5A yang menyebabkan kelainan repolarisasi.

“Keadaan ini memudahkan terjadinya kelainan irama yang fatal dan menimbulkan kematian jantung mendadak,” ungkapnya.

Sindrom ini prevalensinya lebih tinggi dikawasan Asia Tenggara. Oleh karena itu, lanjutnya kedepan diduga akan lebih banyak kasus serupa yang perlu mendapat tatalaksana yang baik. Di Rumah Sakit Harapan Kita, insidens sindrom Brugada terus meningkat, sejak Januari 2013 hingga 2017 didapatkan 30 kasus baru.

Sindrom Brugada hanya salah satu saja dari kelompok penyakit kanalopati yang semuanya menyebabkan aritmia fatal. Data menunjukkan bahwa aritmia ventrikuler merupakan sebagian besar gambaran yang ditemukan saat terjadi kematian mendadak. Lebih dari 80 persen aritmia ditemukan pada saat kematian jantung mendadak  adalah takiaritmia ventrikel, yang terdiri dari fibrilasi ventrikel, takikardia ventrikel dan torses de pointes.