Sabtu , 12 August 2017, 08:35 WIB

Dua Trik Buat Anak tak Takut Diimunisasi

Rep: Adysha Citra R/ Red: Indira Rezkisari
Antara/Fahrul Jayadiputra
Petugas kesehatan menyiapkan vaksin Measles Rubella (MR) yang akan disuntikkan kepada siswa saat Kampanye Imunisasi Campak dan MR di SMPN 9, Bandung, Jawa Barat, Selasa (1/8).
Petugas kesehatan menyiapkan vaksin Measles Rubella (MR) yang akan disuntikkan kepada siswa saat Kampanye Imunisasi Campak dan MR di SMPN 9, Bandung, Jawa Barat, Selasa (1/8).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemberian imunisasi campak dan rubella atau MR sudah mulai dilakukan di sejumlah sekolah dan pusat layanan kesehatan di Pulau Jawa. Tidak semua anak namun dengan mudah diimunisasi. Jarum suntik memang menjadi momok yang menakutkan bagi anak-anak, bahkan dewasa.

Sebelum imunisasi MR dilakukan, penting bagi guru atau orang tua untuk membuat suasana menjadi lebih santai dan cair. Pencairan suasana ini bisa dilakukan dengan melakukan kegiatan menyenangkan terlebih dahulu, seperti bermain hingga bernyanyi.

Pencairan susasana juga bisa dilakukan dengan memberikan anak makanan atau minuman yang disukai. Beberapa di antaranya ialah susu atau makanan ringan. "Mungkin itu lebih mendinginkan, menentramkan hati," kata Sekretaris Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia Dr dr Hindra Irawan Satari SpA(K) MTropPaed saat dihubungi Republika.co.id.

Ia menganjurkan juga sekolah menanamkan keberanian di murid untuk diimunisasi. Keberanian caranya bisa ditularkan di antara teman sekelas yang sama-sama akan menjalani imunisasi MR di sekolah. Orang dewasa bisa menanyakan kepada anak-anak siapa yang berani menjalani imunisasi MR lebih dulu. Imunisasi MR bisa dilakukan terlebih dahulu pada anak-anak yang berani mengangkat tangan.

Setelah itu, anak-anak yang sudah mendapatkan suntikan vaksin MR bisa diminta menceritakan apa yang ia rasakan saat diimunisasi. Dengan mendengarkan cerita dari teman sebaya yang sudah mendapatkan suntikan lebih dahulu, keberanian bisa ikut tumbuh pada anak-anak yang masih takut dengan jarum suntik.

Hindra mengatakan cara tersebut juga diterapkan saat pencanangan imunisasi MR pada 1 Agustus lalu di Yogyakarta bersama Presiden RI Joko Widodo. 'Penularan' keberanian di antara teman-teman sepermainan ini terbukti dapat membuat suasana menjadi lebih cair.

Hindra juga menyarankan agar orang dewasa tidak memanggil dan menderetkan anak satu per satu untuk mendapatkan imunisasi MR. Alasannya, pemanggilan tersebut dapat membuat suasana proses imunisasi menjadi tegang. "Kalau dipanggil satu-satu jadi seperti mau dihukum," jelas Hindra.

Mengingat pentingnya imunisasi MR bagi kesehatan anak, orang tua diimbau untuk memberikan anak akses terhadap imunisasi. Di sisi lain, dukungan orang tua terhadap imunisasi MR juga dapat mendukung tercapainya target dunia untuk bebas campak dan pengendalian Rubella pada 2020 mendatang.

Hindra mengatakan imunisasi MR bisa diberikan kepada anak tanpa melihat status imunisasi anak sebelumnya. Di samping itu, Hindra juga mengimbau agar orang tua bijak dalam memilah informasi terkait imunisasi MR mengingat cukup banyak hoax merugikan terkait imunisasi MR di media sosial. Informasi yang tepat mengenai imunisasi MR sebaiknya ditanyakan langsung kepada pihak yang kompeten yaitu dokter, khususnya dokter anak.

"(Imunisasi MR) Lebih banyak manfaatnya daripada yang disampaikan medsos-medsos (hoax). Jangan lihat medsos-medsos yang tidak kompeten," tutur Hindra.