Selasa , 21 March 2017, 10:16 WIB

Saran Dokter Agar Tetap Bugar Saat Equinox

Rep: Adysha Citra Ramadhani/ Red: Indira Rezkisari
Antara/Fikri Yusuf
Matahari bersinar terik saat fenomena Equinox terlihat dari langit Kota Denpasar, Bali, Senin (21/3).
Matahari bersinar terik saat fenomena Equinox terlihat dari langit Kota Denpasar, Bali, Senin (21/3).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Fenomena Equinox, di mana matahari melintasi garis khatulistiwa, diprediksi berlangsung dalam hari-hari ini. Meski BMKG mengatakan Equinox tidak menyebabkan peningkatan suhu udara drastis, masyarakat tetap disarankan untuk menjaga kondisi tubuh tetap prima di tengah cuaca yang sedikit lebih panas.

Ahli gizi Jansen Ongko mengatakan salah satu cara untuk mempersiapkan tubuh menghadapi suhu udara yang meningkat ialah dengan memenuhi kebutuhan cairan tubuh. Selama kebutuhan cairan tubuh terpenuhi, Jansen mengatakan peningkatan suhu udara tidak perlu terlalu dikhawatirkan.

Secara teori, kebutuhan cairan tubuh dapat dihitung dengan cara mengalikan 30 ml dengan berat badan dalam kg. Sebagai contoh, individu dengan berat badan 50 kg membutuhkan cairan setidaknya 1,5 liter per hari, hasil dari 30 ml dikali 50. Sedangkan individu dengan berat badan 70 kg setidaknya membutuhkan cairan 2,1 liter per hari.

"Tapi itu (jumlah air) minimal ya," kata Jansen.

Akan tetapi, dalam praktiknya akan cukup sulit untuk benar-benar mengukur jumlah cairan yang diminum per hari. Oleh karena itu, Jansen mengungkapkan cara mudah untuk mengetahui apakah kebutuhan cairan tubuh sudah terpenuhi atau belum. Cara sederhana tersebut ialah dengan melihat warna urin.

Warna urin yang terang menunjukkan bahwa kebutuhan cairan tubuh sudah terpenuhi. Sebaliknya, urin yang keruh dan lebih gelap menunjukkan bahwa kebutuhan cairan tubuh belum terpenuhi dengan baik.

"Kalau urin kamu tidak berubah warna, (masih) kuning terang, tidak usah takut dengan fenomena apapun itu namanya," tambah 

Terkait Equinox, BMKG telah mengungkapkan bahwa fenomina astronomi ini tidak selalu mengakibatkan peningkatan suhu udara secara drastis. BMKG juga mengungkapkan bahwa Equinox tidak seperti Heat Wave di Afrika dan Timur Tengah yang dapat mengakibatkan suhu udara meningkat secara drastis dan bertahan lama. Rata-rata suhu maksimal di wilayah Indonesia berkisar antara 32-36 derajat Celcius.

"Menyikapi hal ini, BMKG mengimbau masyarakat untuk tidak perlu mengkhawatirkan dampak dari equinox sebagaimana disebutkan dalam isu yang berkembang," terang Kabag Humas BMKG Hary Tirto Djatmiko melalui pernyataan resmi beberapa waktu lalu.

Hary mengatakan secara umum kondisi cuaca di wilayah Indonesia masih cenderung lembap atau basah. Beberapa wilayah Indonesia saat ini juga sedang memasuki periode transisi atau pancaroba.

"Maka, ada baiknya masyarakat tetap mengantisipasi kondisi cuaca yang cukup panas dengan meningkatkan daya tahan tubuh dan tetap menjaga kesehatan keluarga serta lingkungan," ungkap Hary.